Tarbiyah Dzatiyah

Klender yang asri, Ahad, 22 november 2009 7:30 am

oleh : Akh Erwinantho, S.E


Tarbiyah Dzatiyah ialah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan), yang diberikan orang muslim atau muslimah kepada dirinya sendiri untuk membentuk kepribadian Islami yang sempurna di seluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, sosial, dan lain sebagainya, sehingga naik ke tingkatan kesempurnaan sebagai manusia.

Atau dengan kata lain, tarbiyah dzatiyah adalah tarbiyah seseorang terhadap diri sendiri dengan dirinya sendiri. Sehingga tarbiyah dzatiyah berbeda dengan tarbiyah jama’I (kolektif), seperti pada forum-forum yang umum.

Adapun urgensi tarbiyah dzatiyah adalah :

1. Menjaga diri mesti di dahulukan daripada menjaga orang lain; sebagaimana dalam sebuah ayat yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman jaalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (At-Tahrim:6);
2. Jika anda tidak mentarbiyah diri sendiri, lalu siapa lagi ?;
3. Hisab kelak bersifat individual;
4. Tarbiyah Dzatiyah lebih mampu mengadakan perubahan;
5. Sarana dakwah yang paling kuat

Selain itu ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengabaikan tarbiyah untuk dirinya sendiri ini, diantaranya :

1. Minimnya ilmu;
2. Tidak punya tujuan hidup yang jelas;
3. Lengket dengan dunia;
4. pemahaman yang salah terhadap tarbiyah (pembinaan);

Hal yang paling pokok dalam pengembangan diri ialah adanya usaha dalam membina diri. Kita perlu membina diri sendiri ke arah yang lebih baik. Justu membina diri sendiri jauh lebih penting ketimbang kita menunggu dibina oleh orang lain. Kehadiran diri orang lain hanya sebagai pelangkap agar kita bisa mengambil hikmah dari orang lain.

Berikut adalah sarana-sarana yang bisa kita gunakan dalam rangka membina diri atau dalam bahasa Arab disebut dengan Tarbiyah Dzatiyah.Sarana-sarana tarbiyah dzatiyah banyak sekali, diantaranya:

Muhasabah (Evaluasi)

Dalam mentarbiyah diri sendiri, seorang Muslim yang serius dikenal bersungguh-sungguh dalam melakukan muhasabah terhadap dirinya dari waktu ke waktu dan memeriksa isi kehidupannya, agar ia tahu pikiran-pikiran benar apa saja yang ia bawa, lalu ia kembangkan. Amal-amal baik apa saja yang ada padanya, lalu ia konsisten mengerjakannya. Dan apa saja titik-titik lemah dan kemaksiatan di aspek ilmiah dan amal, lalu ia menjauhinya.

Taubat Dari Segala Dosa

Dosa dan maksiat termasuk sebab terbesar terputusnya hati dari Allah Ta’ala, kelemahan, ketidakberdayaannya menginginkan kebaikan dan amal shalih, gagal mengerjakannya. Dan gagal mengerjakannya secara permanen. Bukti konkrit masalah ini ialah ketidakmampuan orang Muslim pelaku maksiat untuk mentarbiyah diri sendiri, dengan tarbiyah iman dan ilmiah secara sempurna. Anjuran bertaubat, Allah Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim: 8)

Mencari Ilmu Dan Memperluas Wawasan

Ilmu yang menunjang Tarbiyah Dzatiyah ialah ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, dan pemahaman salafush shalih, yang menghasilkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, perasaan selalu diawasi-Nya, menunjukkan kepada ketaatan kepada-Nya, mengetahui batasan-batasan dan hukum-hukum-Nya, mengantarkan ke syurga, dan menjauhkan pelakunya dari neraka.

Mengerjakan Amalan-Amalan Iman

Cara ini merupakan:

• Sarana yang paling bervariatif.
• Realisasi konkrit perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
• Ujian dalam mencari petunjuk dan istiqamah.
• Bukti kuat keinginan ikhlas orang dalam mentarbiyah dirinya dan memperbaikinya.

Sarana dalam mengerjakan amalan-amalan iman, diantaranya:

1. Mengerjakan ibadah-ibadah wajib seoptimal mungkin.
2. Meningkatkan porsi ibadah-ibadah sunnah.
3. Peduli dengan ibadah dzikir

Memperhatikan Aspek Akhlak (Moral)

Seorang Muslim harus mentarbiyah dirinya di atas akhlak yang dianjurkan agama kita yang agung, misalnya tahan bantingan, sabar, cinta, tawadlu,dermawan, jujur, amanah, adil, sabar atas gangguan, berbakti kepada orang tua, menyambung hubungan kekerabatan, hormat pada orang dewasa, menyayangi anak kecil, membantu orang yang membutuhkan, orang fakir dan orang yang terdzalimi, agar setiap orang di masyarakat Muslim dapat hidup dalam nuansa cinta, kasih sayang, hubungan yang diliputi kebahagiaan dan keserasian, saling mempercayai, hormat, saling menyayangi dan sepenanggungan.

Terlibat Dalam Aktivitas Dakwah

Dalam surat Al-Ashr menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak merugi di akhirat ialah orang-orang yang mempunyai empat sifat, yaitu beriman kepada Allah Ta’ala, beramal shalih, saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat untuk sabar. Hal ini dapat terealisir dengan menunaikan kewajiban berdakwah di jalan Allah Ta’ala, amar ma’ruf nahi munkar, dalam suasana cinta dan ukhuwah karena Allah Ta’ala.

Mujahadah (Jihad)

• Sabar adalah bekal mujahadah.
• Sumber keinginan.
• Bertahap dalam melakukan mujahadah,
• Jadilah orang yang tidak lalai (selalu dalam keadaan terjaga).
• Dapat mengambil manfaat dari Mujahadah.
• Berdo’adengan jujur kepada Allah Ta’ala

Berdoa dengan tulus kepada Allah ta’ala sebagaimana dalam sebuah ayat yang artinya “ Dan Tuhanku berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan (doa) kalian” (Ghafir :60)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sumber:

Judul buku : Tarbiyah Dzatiyah
Pengarang : Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan
Penerjemah : Fadhli Bahri, Lc
Penerbit : An Nadwah, 2002

tag : Materi tarbiyah, Liqo, Tarbiyah dzatiyah

Salam...


Label: